Selasa, 11 November 2014

Kemampuan adaptasi Nurfahmi Rasyid 16113653




Kemampuan saya dalam beradaptasi di kelas sangatlah kurang, dibuktikan dengan waktu pertama kali masuk kekelas waktu tingkat 1, waktu itu karena belum ada yang saya kenal satu pun, jadi sewaku dikelas saya kebanyakan diam, ya walaupun ada perkenalan diri satu persatu dikelas, tapi itu tidak membuat saya ataupun teman-teman lainnya langsung berbaur satu sama lain, memang ada beberapa orang yang sudah kenal sebelum masuk disini, jadi mereka hanya mengobrol dengan kelompoknya saja.
Setelah beberapa hari barulah kami saling mengobrol satu sama lainnya, membicarakan tugas, materi, dan hal-hal yang berbau pelajaran dan kuliah. Seperti anak-anak kuliahan biasanya kita bisa beradaptasi lebih cepat dibandingkan waktu sekolah entah itu SD, SMP maupun SMA.
Memasuki tingkat 2 saya memasuki kelas dengan orang-orang dengan wajah baru, maksudnya adalah tidak sama dengan orang-orang di tingkat 1 kemarin, tingkat 2 ini adalah kelas tetap kita sampai nanti tingkat 4, yang saya pikirkan disini adalah, bisakah kita kelas 2KA29 ini melangkah maju bersama-sama sampai batas akhir di semester 8 nanti tanpa ada yang tumbang di tengah jalan.
Kelas baru, berarti harus beradaptasi lagi, dan seperti yang sebelum-sebelumnya, saya itu orang yang agak susah beradaptasi dengan lingkungan baru tapi mungkin karena ini sudah tingkat 2, jadi saya bisa beradaptasi lebih cepat dari tahun kemarin. Setelah saya tanya teman saya, ada beberapa orang yang memang dari kelas 1 nya sudah sekelas dan di kelas 2 ini sekelas lagi, dan begitu saya lihat di absen ternyata saya adalah satu-satunya dari 1KA30 yang masuk dikelas ini.
Dikelas tingkat 2 ini saya menyadari bahwa semakin orang itu mudah beradaptasi, semakin cepat dia memiliki teman baru, dari situ saya blajar bahwa dikelas ini kita tidak boleh jadi orang yang diam karena segala hal nya akan jadi susah bila kamu diam saja, contoh nya saat mengerjakan tugas dosen yang kita kurang mengerti, kita bisa lebih enak minta diajari ataupun minta salinan tugas dari orang yang mengerti apabila kita sudah berbaur atau beradaptasi dengan orang tersebut.
Jadi inti nya adalah jangan malu berbaur dengan semua orang, jangan malu beradaptasi dengan lingkungan sekitar karena kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, kita masih butuh banyak pertolongan dari orang lain. So.......... kemampuan beradaptasi itu wajib dipelajari oleh semua orang agar diri kita tidak rugi.



Sabtu, 11 Oktober 2014

Pengalaman Organisasi di lingkungan (Menjadi panitia 17an)

Acara 17an adalah salah satu ajang sosialisasi dengan tetanggga, bagi saya yang anak kampus, rasanya tidak cukup enak bila tidak bersosialisasi dengan tetangga, FYI saya sudah hampir 8 tahun tinggal di lingkungan rumah saya sekarang tapi sayangnya saya jarang bersosialisasi dan mengadakan kegiatan dengan tetangga, setiap ada panggilan untuk jadi panitia, saya menggakunya ada acara kampus, dilingkungan rumah saya termasuk orang yang pasif, tidak ikut karang taruna, remaja mesjid dll.
setelah dari kelas 7 smp sampai sekarang tingkat 2 kuliah saya lumayan paasif, 17 agustusan tahun ini saya memutuskan untuk ambil bagian dalam menjadi panitia 17an, ssetelah dapat panggilan dari RT, saya lekas mengiyakan, singkat kata saya pun ikut menjadi panitia 17an dan mulai sibuk rapat, belanja ini itu, dan lain-lain.
sebenarnya saya sudah kenal dengan beberapa remaja karang taruna di RT saya, karna sebagian dari mereka adalah teman bermain saya sewaktu smp,saat sama-sama menjadi panittia inilah kita kembali bisa kumpul, yang tadinya disibukkan oleh kegiatan sekolah dan kuliah,
Alhamdulillah, rangkaian acara Perayaan 17an di RT saya berlalu dengan sukses. Saya pun sangat bahagia akhirnya bisa juga berkontribusi aktif di lingkungan saya.

finish

Senin, 29 September 2014

Pengalaman Organisasi (Pramuka)

Ketika saya duduk di Madrasah Aliyah, kegiatan ektrakurikuler yang ada di sekolah saya hanya sedikit diantaranya Paskibra, PMR, Rohis, dan Pramuka. Keempat ekstrakurikuler tersebut menjadi primadona di sekolah. Nah, suatu ketika saya melihat senior latihan ekstrakurikuler pramuka. Latihannya pun seru selain diajarkan cara menggunakan kode morse, tali temali untuk menjadi sebuah tandu, dan lain sebgainya. Kegiatan pramuka yang penulis amati saat teman berlatih juga ada kegiatan permainan ke kompakan. Dari sanalah saya berminat untuk mengikuti kegiatan pramuka.
Kegiatan pramuka saat tidak hanya pertemuan seminggu sekali. Kegiatan pramuka saat itu juga terkadang mengadakan kemah pelantikan anggota baru yang diadakan bersama anggota pramuka dari sekolah lain. Kegiatan pramuka tidak sekedar mengenal sandi-sandi ataupun berkutat pada pembuatan simpul tali tetapi disini kita juga diajarkan bagaimana seorang anak untuk menjadi pribadi yang mandiri dan tidak manja. Menjadi seorang pramuka merupakan kebanggan karena kita juga dilatih menjadi pemimpin. Pemimpin dalam suatu kelompok. Saya waktu iu ditunjuk sebagai Ketua panitia pelantikan Bantara di sekolah, dan menjadi panitia suaatu pelantikan atau kemah itu amatlah susah, kita harus menyiapkan segalanya, mulai dari tmpat, konsumsi, transport dan lain­-lain.
Namun, saat ini kegiatan kepramukaan di sekolah-sekolah kurang diminati peserta didik. Banyak anak sekolah memilh ekstrakurikuler lain yang lebih terkesan modern seperti marching band, dance kontemporer, band, capoera, dan lain sebaginya. Pramuka bukanlah ekstrakurikuler yang jadul atau kuno. Malahan jika kita bergabung menjadi seorang pramuka, banyak sekali ilmu dan manfaat yang dapat kita terima. Ibaratnya dengan bergabung menjadi pramuka softskill kita akan terasah dengan sendirinya.

Selasa, 07 Januari 2014

Tulisan BAB X - Agama dan Masyarakat


  Agama dan masyarakat Agama adalah pegangan yang harus ada dalam diri setiap manusia.Tanpa peganganagama, maka akan goyahlah kehidupan manusia.Peranan agama yang paling dominantadalah ia dapat menjadi pemangkin kepada pembangunan manusia. Pegangan agama juga boleh menjadi asas kepada ketamadunan dan acuan kepada latar budayamasyarakat.Setiap individu berhak bebas memeluk agama masing-masing. Fungsi dan Peran Agama Dalam Masyarakat Dalam hal fungsi, masyarakat dan agama itu berperan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahakan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan agama menjalankan fungsinya sehingga masyarakat merasa sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya. Agama dalam masyarakat bisa difungsikan sebagai berikut:
  • Fungsi edukatif. Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara (perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani, dsb.
  • Fungsi penyelamatan. Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu “yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin.
  • Fungsi pengawasan sosial (social control) Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu: •Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga masyarakat. • Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral (yang dianggap baik) dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.
  • Fungsi memupuk Persaudaraan. Kesatuan persaudaraan berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan manusia-manusia yang didirikan atas unsur kesamaan. • Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideologi yang sama, seperti liberalism, komunisme, dan sosialisme. • Kesatuan persaudaraan berdasarkan sistem politik yang sama. Bangsa-bangsa bergabung dalam sistem kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll. • Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercayai bersama.
  • Fungsi Transformatif. Fungsi transformatif disini diartikan dengan mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat. Sedangkan menurut Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama dan masyarakat yaitu:
  1. Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi.
  2. Sarana hubungan transendental melalui pemujaan dan upacara Ibadat.
  3. Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada.
  4. Pengoreksi fungsi yang sudah ada.
  5. Pemberi identitas diri.
  6. Pendewasaan agama. Sedangkan menurut Hendropuspito lebih ringkas lagi, akan tetapi intinya hampir sama. Menurutnya fungsi agama dan masyarakat itu adalah edukatif, penyelamat, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif. Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat, karena agama memberikan sebuah system nilai yang memiliki derivasi pada norma-norma masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan pembenaran dalam mengatur pola perilaku manusia, baik di level individu dan masyarakat. Agama menjadi sebuah pedoman hidup singkatnya. Dalam memandang nilai, dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai agama dilihat dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma atau prinsip. Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan adanya sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme.

Tulisan BAB IX - IPTEK dan Kemiskinan


  Ilmu pengetahuan teknologi dan kemiskinan Pengertian ilmu pengetahuan Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ciri-ciri fenomena teknik pada masyarakat Fenomena teknik paa masyarakat ikini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut:
  1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
  2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
  3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
  4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
  5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
  6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
  7. Otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
  Ciri-ciri teknologi barat ciri – ciri teknologi barat adalah sebagai berikut:
  1. Bersifat Intensif pada semua kegiatan manusia
  2. Cenderung bergantung pada sifat ketergantungan
  3. Selalu berpikir bahwa barat adalah pusat dari segala teknologi Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Nilai Pengertian ilmu pengetahuan, teknologi dan nilai Ilmu pengetahuan adalah Sekumpulan proposisi sistematis yang terkandung dalampernyataan-pernyataan yang benar dengan ciri pokok yang bersifat general, rational, objektif, mampu diuji kebenarannya (verifikasi objektif), dan mampu menjadi milik umum (Communality, The Liang Gie, 1991). Teknologi adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhingkan sebelumnya.
  Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Kemiskinan Pengertian kemiskinan Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
  1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
  2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
  3. Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat dan sistem nilai yang dimiliki. Ciri-ciri manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan Mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan, dll. 2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha. 3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD 4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas. 5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.

Tulisan BAB VIII - Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat


  Pertentangan sosial dan integrasi masyarakat Pertentangan sosial di dalam masyarakat merupakan salah satu konflik yang biasanya timbul dari berbagai faktor-faktor sosial yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pertentangan sosial: Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu dan sifatnya esensial bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu di dalam manifestasi pemenuhan dari kepentingan tersebut.Secara psikologis ada 2 jenis kepentingan dalan diri individu yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Individu satu berbeda dengan individu yang lainya. Berikut ini merupakan faktor perbedaan tersebut:
  • Faktor Lingkungan Sosial Kedua faktor diatas merupakan suatu contoh faktor yang dapat menimbulkan suatu perbedaan. Perbedaan disini dibedakan atas faktor bawaan yaitu suatu faktor yang memang timbul berdasarkan faktor perasaan ataupun bawaan seorang individu dalam menyelesaikan masalahnya.
  • Faktor yang lainnya adalah faktor lingkungan sosial yang merupakan suatu faktor yang terjadi sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita. Sebagaimana kita tahu, lingkungan merupakan suatu tempat pendidikan yang paling dekat dengan diri setiap individu yang dapat menentukan baik tidaknya seorang individu di dalam lingkungan sosialnya.
  GOLONGAN-GOLONGAN YANG BERBEDADAN INTEGRASI SOSIAL Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi masyarakat dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupakan tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Bentuk Integrasi sosial Asimilasi yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli. Alkulturasi yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.
  Faktor-Faktor terjadinya masalah sosial: 
  1. Faktor Internal: Faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu perasaan yang dialami oleh seorang individu itu sendiri. • Kesadaran diri sebagai makhluk sosial • Tuntutan kebutuhan • Jiwa dan semangat gotong royong
  2. Faktor External: Faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu masalah yang dialami oleh seorang individu itu sendiri di dalam lingkungan sosialnya. • Tuntutan perkembangan zaman • Persamaan kebudayaan • Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama • Persaman visi, misi, dan tujuan • Sikap toleransi • Adanya kosensus nilai • Adanya tantangan dari luar Syarat Berhasilnya Integrasi Sosial 1. Untuk meningkatkan Integrasi Sosial, Maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya. 2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.

Tulisan BAB VII - Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan


Masyarakat Perdesaan
  Karakteristik umum masyarakat pedesaan yaitu masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri dalam hidup bermasyarakat, yang biasa nampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik tersebut sudah tidak berlaku. Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain:1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian4. Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata pencaharian, agama, adab istiadat, dan sebagainya

Masyarakat Perkotaan
 Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.1. kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Masyarakat kota hanya melakukan kegiatan keagamaan hanya bertempat di rumah peribadatan seperti di masjid, gereja, dan lainnya.2. orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain3. di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, karena perbedaan politik dan agama dan sebagainya.4. jalan pikiran rasional yang dianut oleh masyarkat perkotaan.5. interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.

Perbedaan Masyarakat dan Pekotaan1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnya di daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3. Ukuran Komunitas, Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4. Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.

Tulisan BAB VI - Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat



  Pelapisan sosial dan kesamaan derajat Terjadinya pelapisan sosial
  • Terjadi dengan sendirinya, pada pelapisan yang terjadi dengan sendirinya, maka kedudukan seseorang pada suatu strata tertentu adalah secara otomatis, misalnya karena usia tua, karena pemilikan kepandaian yang lebih, atau kerabat pembuka tanah, seseorang yang memiliki bakat seni, atau sakti.
  • Terjadi dengan disengaja, sistem palapisan ini disusun dengan sengaja ditujuan untuk mengejar tujuan bersama. Didalam pelapisan ini ditentukan secar jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
 Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara ini mengandung dua sistem ialah:
  • Sistem Fungsional merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
  • Sistem Scalar merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas (vertical). Pembagian sistem Pelapisan Menurut Sifatnya Menurut sifatnya maka sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi: 1. sistem pelapisan masyarakat yang tertutup 2. sistem pelapisan masyarakat yang terbuka Kesamaan Derajat Indonesia, sebagai Negara yang lahir sebelum declaration of human right juga telah mencantumkan dalam paal-pasal UUD 1945 hak-hak azasi manusia. Pasal 2792) UUD 1945 menyatakan bahwa, tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 29(2) menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Elite dan Massa Dalam pengertian umum “elite” menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan. Ada dua kecenderungan untuk menetukan elite didalam masyarakat yaitu: pertama menitik beratakan pada fungsi sosial dan yang kedua, pertimbangan-pertimbangan yang bersifat moral. Kedua kecenderungan ini melahirkan dua macam elite yaitu elite internal dan elite eksternal. • Elite Internal menyangkut integrasi moral serta solidaritas sosial yang berhubungan dengan perasaan tertentu pada saat tertentu, sopan santun dan keadaan jiwa. • Elite Eksternal adalah meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi berhubungan dengan problem-problema yang memperlihatkan sifat yang keras masyarakat lain atau mas depan yang tak tentu. Massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spotnan. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperanserta dalam perilaku. Cirri-ciri massa adalah : 1. Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tignkat kemakmuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. 2. Massa merupakan kelompok yang anonym, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonym 3. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota-anggotanya.

Tulisan BAB V - Warga Negara dan Negara


  Warga negara dan negara Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Syarat primer sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya adalah mendapat pengakuan dari negara lain. Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.
  Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya. Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan (bahasa Inggris: citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya. Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris: nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara. Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan masyarakatnya.
  Dari dasar pemikiran ini muncul mata pelajaran Kewarganegaraan (bahasa Inggris: Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah. berikut hak dan kewajiban warga negara: Hak Warga Negara Indonesia
 1. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum
 2. Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
 3. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan
 4. Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-          masing yang dipercayai
 5. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
 6. Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia atau nkri dari serangan      musuh
 7. Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul mengeluarkan              pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku Kewajiban Warga Negara Indonesia 1. Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh 2. Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda) 3.Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya 4. Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku di wilayah negara indonesia 5. Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik. berikut kewajiban negara 1. Mempersiapkan, memelihara, dan melaksanakan keamanan negara 2. Menyediakan dan memelihara fasilitas untuk kesejahteraan sosial dan perlindungan sosial : - fakir miskin - jompo - yatim piatu - masyarakat miskin - pengagguran 3. Menyediakan dan memelihara fasilitas kesehatan 4. Menyediakan dan memelihara fasilitas pendidikan.

Tulisan BAB IV - Pemuda dan Sosialisasi


Pemuda dan Sosialisasi
Pemuda
Pemuda adalah golongan manusia manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda.
Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda Indonesia adalah sebagai berikut :
Masa bayi                  : 0 – 1 tahun
Masa anak                : 1 – 12 tahun
Masa Puber              : 12 – 15 tahun
Masa Pemuda          : 15 – 21 tahun
Masa dewasa           : 21 tahun keatas
Dilihat dari segi budaya atau fungsionalya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa, dengan perincian sebagia berikut :
Golongan anak        : 0 – 12 tahun
Golongan remaja     : 13 – 18 tahun
Golongan dewasa   : 18 (21) tahun keatas
Masa muda identik dengan proses berpikir yang terkadang lebih pendek, emosi dan mau menang sendiri.Penggunaan sosialisasi juga lebih cepat dan tanggap di pedesaan dibanding dengan masyarakat perkotaan. Sebagai contoh jika kita mendengar kabar ada seseorang yang meninggal dunia. Para pemuda ada yang bisa masuk ke rumah warga dan ada yang menyebarkan kabar melalui masjid baik di desa yang terkena musibah, maupun desa yang lain. Pada sekolah, peran pemuda yang menjadi siswa/i dapat dilakukan pada kegiatan OSIS pada sekolah tersebut. Biasanya jika ada kabar yang harus disampaikan ke semua kelas akan dikabarkan oleh bagian OSIS yang ada disekolah. Peran pemuda diluar kegiatan sekolah dapat dilakukan dengan menyebarkan bahaya penyalahgunaan narkoba. Jika pemuda dilingkungan tersebut hanya mengandalkan pihak yang berwajib. Maka, niscaya pemuda lain akan bisa terkena bahaya tersebut.
Sosialiasi
      Adalah suatu proses penyebaran atau penanaman kebiasaan dari suatu suatu kelompok kepada orang-orang sekitarnya.Sosiaisasi dikategorikan dalam dua jenis,yaitu formal dan informal.Formal yaitu sosialisasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga-lembaga yang bersifat formal yang biasanya sesuai dengan perarturan suatu negara.Sedangkan Informal adalah sosialisasi yang dilakukan oleh kerabat dekat seperti teman atau sahabat,inilah yan perlu kita waspadai sebagai pemuda karena sosialisasi ini banyak mempenaruhi kehidupan para pemuda Indonesia.Ada beberapa agen sosialisasi yaitu keluarga,teman dan sekolah atau lembaga-lembaga lainnya.

Tulisan BAB III - Individu,Keluarga dan Masyarakat



Tulisan : Individu,Keluarga dan Masyarakat

Individu itu sendiri memiliki arti sendiri atau satu orang.Individu  memiliki hak didalam masyarakat untuk bersosialisasi,individu mempunyai hak untuk berteman dengan siapa saja.

Individu itu sendiri pasti memiliki arti sebuah keluarga yang terdiri dari ayah,ibu,kakak,ataupun adik dari keluarga adalah suatu satuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial,yg di tandai dengan adanya kerja sama ekonomi.Fungsi sebuah berkembangbiak,mensosialisasi, mendidik anak,menolong,melindungi,atau merawat orang-orang tua(jompo).


Ternyata individu dan keluarga membutuhkan suatu masyarakat untuk melakukan sosialisasi dalam kelangsungan hidup dan memperlancar jalannya suatu kehidupan.Masyarakat adalah wadah berkumpulnya individu yang hidup secara sosial,masyarakat terdiri dari"Saya,anda dan mereka" yang memiliki kehendak dan keingian hidup bersama.

Apakah dari Individu,keluarga dan masyarakat memiliki keterkaitan atau hubungan satu sama lain? Jawabannya adalah iyaa.Semua itu memiliki keterkaitan ataupun hubungan.Alasannya,Karena individu apabila pada perilaku yang khas dirinya itu diproyeksikan pada suatu lingkungan sosial yang disebut masyarakat.satuan-satuan lingkungan sosial yang mengelilingi individu terdiri dari keluarga,lembaga,komunitas dan masyarakat.... 

Tulisan BAB II - Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan


Sebagai Negara terpadat penduduknya ke 3 di dunia, Indonesia patut untuk berbenah sesegera mungkin. Karena bila tidak, akan terjadi ledakan penduduk yang lebih dahsyat dari saat ini.
Ada beberapa aspek atau cara jitu untuk menekan jumlah penduduk Indonesia yang sudah terlanjur membeludak. Diantaranya adalah menekan jumlah kelahiran, melakukan program KB (Keluarga Berencana), malukukan program transmigrasi dengan benar, serta mencegah pernikahan dini. Jika semua program ini sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh semua masyarakat Indonesia walaupun terlihat susah memang, maka Negara kita adalah Negara dengan presentase tertinggi   untuk  angka keberhasilan dalam mengatasi ledakan penduduk.

Dalam konteks persebaran penduduk, Indonesia sudah cukup sukses denga program ini. Mengapa? Karena sudah banyak persebaran penduduk yang dilakukan sekitar tahun 80-90 an. Tetapi, persebaran ini dianggap kurang efektif, dikarenakan persebaran penduduk yang dianggap tidak adil karena terdapat transmigran-transmigran yang merasa dibeda-bedakan kerena ada transmigran yang dipindah antar pulau yang berdekatan dan ada pula transmigran yang dipindah antar pulau yang berjauhan dari pulau asal tempat tinggal mereka sebelumnya.
Kebudayaan di Indonesia sangatlah beragam, mulai dari kebudayaan pertama yang masuk ke Indonesia yaitu kebudayan Hindu, kemudian disusul kebudayaan Budha, kemudian barulah kebudayaan Islam  mulai masuk ke Indonesia.
Di samping kebudayaan tersebut, terdapat budaya barat yang sangat berpengaruh dengan bangsa dan masyarakat Indonesia. Budaya barat adalah budaya yang menurut saya budaya dengan tingkat dampak negative yang cukup tinggi. Mengapa? Karena, memang sudah terbukti dengan dampak yang sudah terjadi di Indonesia. Khususnya untuk para remaja yang mudah terpengaruh, merekalah yang  paling rawan terkena dampak negative dari budaya barat. Mulai dari gaya berpakaian, gaya berperilaku, dan makanan. Untuk gaya berpakaian, para remaja saat ini lebih suka memakai  pakaian yang terlalu terbuka. Para orang tua pun harus ikut berperan dalam mengarahkan putra – putri nya agar tidak terjebak dan masuk dalam pengaruh negative dari budaya barat.

Tulisan BAB I - ISD sebagai salah satu MKDU

Ilmu Sosial Dasar sebagai salah satu MKDU
Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial. 

TUJUAN dari ISD untuk Pembinaan Mahasiswa : 
a. Memahami dan menyadari adanya kenyataan – kenyatan sosial dan masalah – masalah sosial yang ada masyarakatnya. 
b. Peka terhadap masalah – masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha – usaha menanggulanginya. 
c. Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mempelajari secara kritis – interdisipliner. 
d. Mempelajari jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat. 
Persamaan antara ISD dengan IPS. Dua-duanya merupakan bahan studi untuk pendidikan. Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Keduanya punya materi yang berasal dari masalah dan kenyataan sosial Perbedaan antara ISD Dengan IPS : ISD diberikan diperguruan tinggi dan IPS diberikan di SD dan sekolah kejuruan. ISD 1 mata kuliah tunggal, IPS merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran untuk sekolah lanjutan. ISD diarahkan untuk pembentukan sikap dan kepribadian, IPS diarahkan untuk pembentukan pengetahuan dan keterampilan intelektual.
Perbedaan antara ISD dan IPS adalah :
- ISD diberikan perguruan tinggi dan ips diberikan di SD dan sekolah lanjut.
- ISD 1 mata kuliah tunggal, IPS merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran untuk sekolah lanjut.
 - ISD diarahkan untuk pembentukan sikap dan kepribadian, IPS diarahkan untuk keterampilan intelektual.
 - Materi ISD terdiri dari masalah-masalah social, dengan demikian pelajaran ISD dapat dibedakan atas 3 golongan, yaitu :
 1. Kenyataan 2 sosial yang ada dalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah social tertentu.
2. Konsep pengertian tentang kenyataan social dibatasi pada konsep dasar yang diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah social yang dipahami dalam IPS.
3. Masalah-masalah social yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan social yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan..

BAB X - Agama dan Masyarakat



Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :
Ø  menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
Ø  menaati segenap ketetapan,aturan,hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

- FUNGSI AGAMA
Fungsi Agama Kepada Manusia
Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah:

- Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT
T-Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.

- Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

– Memainkan fungsi kawanan sosial.
Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial\
Pelembagaan,
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Kami mengurapamakan sebagai sebuah telepon. Jika manusia adalah suatu pesawat telepon, maka agama adalah media perantara seperti kabel telepon untuk dapat menghubungkan pesawat telepon kita dengan Telkom atau dalam hal ini Tuhan. Lembaga agama adalah suatu organisasi, yang disahkan oleh pemerintah dan berjalan menurut keyakinan yang dianut oleh masing-masing agama. Penduduk Indonesia pada umumnya telah menjadi penganut formal salah satu dari lima agama resmi yang diakui pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan patut bersyukur atas kenyataan itu. Namun nampaknya belum bisa berbangga. Perpindahan penganut agama suku ke salah satu agama resmi itu banyak yang tidak murni.
Sejarah mencatat bahwa tidak jarang terjadi peralihan sebab terpaksa. Pemaksaan terjadi melalui “perselingkuhan” antara lembaga agama dengan lembaga kekuasaan. Keduanya mempunyai kepentingan. Pemerintah butuh ketentraman sedangkan lembaga agama membutuhkan penganut atau pengikut. Kerjasama (atau lebih tepat disebut saling memanfaatkan) itu terjadi sejak dahulu kala. Para penyiar agama sering membonceng pada suatu kekuasaan (kebetulan menjadi penganut agama tersebut) yang mengadakan invansi ke daerah lain. Penduduk daerah atau negara yang baru ditaklukkan itu dipaksa (suka atau tidak suka) menjadi penganut agama penguasa baru.
Kasus-kasus itu tidak hanya terjadi di Indonesia atau Asia dan Afrika pada umumnya tetapi juga terjadi di Eropa pada saat agama monoteis mulai diperkenalkan. Di Indonesia “tradisi” saling memanfaatkan berlanjut pada zaman orde Baru.Pemerintah orde baru tidak mengenal penganut di luar lima agama resmi. Inilah pemaksaan tahap kedua. Penganut di luar lima agama resmi, termasuk penganut agama suku, terpaksa memilih salah satu dari lima agama resmi versi pemerintah. Namun ternyata masalah belum selesai. Kenyataannya banyak orang yang menjadi penganut suatu agama tetapi hanya sebagai formalitas belaka. Dampak keadaan demikian terhadap kehidupan keberagaan di Indonesia sangat besar. Para penganut yang formalitas itu, dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak mempraktekkan ajaran agam suku, yang dianut sebelumnya, daripada agama barunya. Pra rohaniwan agama monoteis, umumnya mempunyai sikap bersebrangan dengan prak keagamaan demikian. Lagi pula pengangut agama suku umumnya telah dicap sebagai kekafiran. Berbagai cara telah dilakukan supaya praktek agama suku ditinggalkan, misalnya pemberlakukan siasat/disiplin gerejawi. Namun nampaknya tidak terlalu efektif. Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di desadesa.
Demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacarav-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah. Upacara-upacara agama sukuyang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur bagaikan tumbuhan yang mendapat siraman air dan pupuk yang segar. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara.


Bahkan di kota-kotapun sering ditemukan praktek hidup yang sebenarnya berakar dalam agama suku. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama.

Sumber-Sumber       
o   Buku ISD MKDU Universitas Gunadarma
o   Pemikiran Sendiri
o   Buku Ilmu Sosial Dasar pengarang Drs.Abu Ahmadi penerbit Rineka Cipta